Sepenggal Cerita Dari Kampung Bangun (Part II)

Berbicara tentang Kampung Sei Bebanir Bangun, tidak terlepas dari pesona kampungnya. Kampung Sei Bebanir Bangun memiliki berbagai tempat menarik untuk dikunjungi. Kampung Bangun, begitu warga biasa menyebutnya, memiliki pasar senja yang merupakan salah satu pasar terbesar di Kabupaten Berau. Pembeli di Pasar Senja tidak hanya berasal dari Kampung Bangun saja, melainkan seluruh warga di Kabupaten Berau. Tentunya hal ini juga didukung dengan infrastruktur jalan di wilayah Bangun yang merupakan jalan poros penghubung Kampung Gurimbang ke Kampung Bangun.

Produk-produk yang dijual di Pasar Senja ini merupakan produk segar asli langsung dari petani, sehingga harga menjadi jauh lebih murah karena penjualannya tanpa adanya perantara pengepul atau tengkulak. Hal ini menyebabkan hasil panen baik perikanan maupun pertanian khususnya sayuran selalu habis terjual. Namun, terdapat permasalahan yang tidak bisa dihindarkan. Berbeda dengan sayur-sayuran, dagangan beras dan buah-buahan, ketika dagangan beras tidak laku dijual di Pasar Senja, para petani kebingungan hendak menjualnya kemana lagi. Apabila dijual ke wilayah lain, tentu akan kalah saing dan tidak ada yang mau menerima beras dalam jumlah yang sedikit. Hal ini pun menjadi permasalahan tersendiri bagi petani Kampung Bangun.

Tidak kalah penting juga permasalahan tentang lingkungan di Kampung Bangun. Banyaknya sampah yang belum dikelola membuat warga Bangun bingung hendak membuang sampah tersebut kemana. Kebingungan ini justru mendorong masyarakat Kampung Bangun membuang sampah dengan cara membakarnya di lahan kosong, membuangnya ke sungai bahkan dibuang ke gunung sampah. Tentu belum tersedianya tempat pembuangan sampah membuat warga menjadi bertindak seperti demikian. Selain itu, banyak lahan kosong yang ada di Kampung Sei Bebanir Bangun dan salah satunya bisa dimanfaatkan sebagai lokasi pengelolaan sampah. Sudah seharusnya lahan ini dipergunakan untuk tempat pembuangan sampah dengan catatan dibarengi dengan pengelolaannya. Sebenarnya, kesadaran warga akan membuang sampah cukup tinggi. Tapi, faktor belum tersedianya tempat pembuangan sampah yang tepat memaksa warga membuang sampah sembarangan.

Selain itu, warga kampung Bangun menggunakan air sungai sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari mereka seperti untuk MCK dan minum. Tak hanya itu, Pasar Senja yang merupakan sentra kegiatan ekonomi Kampung Bangun juga belum memiliki pengelolaan sampah secara mandiri. Inilah yang menyebabkan lingkungan Kampung Bangun tidak terjaga dengan baik. Seperti dijabarkan dalam RPJMK Kampung, masih terdapat warga yang terkena penyakit akibat penggunaan air sungai di kampung.

Oleh karena itu, jika sampah ini dikelola dengan baik, maka akan memberikan banyak manfaat, seperti lingkungan menjadi bersih serta memberikan income atau pendapatan.

Dari permasalahan yang ada, Kampung Bangun melalui BUMK Bangun Bersatu dapat memanfaatkan pengelolaan sampah menjadi unit usaha BUMK. Sehingga melalui BUMK, Kampung Bangun dapat menjadi Kampung yang bersih dan sejahtera. (Santyo/Bumdes.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *