Mengembangkan Desa Wisata Jangan Lupa Mitigasi Bencana

BUMDES.ID – Beberapa tahun ini mengembangkan potensi wisata desa menjadi primadona usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Keindahan alam yang dimiliki sebagian besar desa memang sangat berpeluang dijadikan obyek wisata desa. Tapi ingat, ada tantangan besar dibalik gegap-gempita keuntungan menjadi Desa Wisata. Apakah itu?

Namanya bencana alam. Ya, tentu saja tidak ada orang yang mau ini terjadi dimanapun, kapanpun, menimpa siapapun. Tetapi negeri tercinta kita ini sudah digariskan sebagai jajaran pulau dengan berbagai ancaman bencana alam yang selalu mengintip setiap saat. Jadi, sudah wajib hukumnya bagi kita untuk mengantisipasinya sebaik mungkin.

Tapi ingat, bencana alam juga bukan karena faktor fenomena alam semata. Perilaku manusia juga salahsatu penyebab terjadinya bencana. Seperti penebangan hutan sembarangan yang menyebabkan longsor dan banjir. Perilaku membuang sampah sembarangan juga bisa memicu masalah. Pembangunan infrastruktur yang tidak ramah gempa misalnya, juga bisa menjadi petaka bagi manusia sendiri.

Masalahnya, hampir semua kejadian bencana alam adalah kejadian yang sulit diprediksi kapan akan datang. Terutama yang berhubungan dengan fenomena alam seperti vulkaologi alias aktivitas Gunung Api dan gempa. Kita sudah belajar berapa dahsyatnya gempa bumi memporak-porandakan semua yang berdiri di atas permukaan tanah dan betapa banyak manusia yang kehilangan segala-gala akibat bencana ini.

Nah, pada saat yang sama desa-desa sedang gencar menjual keindahan alam berupa gunung, perbukitan, air terjun, sungai dan berbagai sumber daya alam yang karakternya sulit ditebak. Maka sudah wajib bagi pengelola wisata alam di desa untuk memahami potensi-potensi bencana alam yang bisa menimpa kawasanya sehingga tidak perlu ada berita buruk ketika bencana datang.

Fenomena lainnya seperti tanah longsor, tebing longsor dan sebagainya misalnya. Fenomena ini sangat mungkin terjadi di berbagai tempat yang memiliki tekstur berkemiringan tinggi. Ini adalah kemungkinan yang harus diwaspadai sebagian besar kawasan wisata di daerah pedesaan. Para pengelola wisata harus memiliki pengetahuan sejarah atas tempat itu, peristiwa bencana seperti apa yang pernah terjadi sebelumnya.

Jika sudah terjadi beberapa kali maka pelajari interval waktu antara bencana yang satu dengan lainnya. Apakah membentu ritme dengan kurun waktu yang hampir sama, soalnya salahsatu karakter gempa bumi adalah memiliki siklus waktu yang kontinyu. Pelajari pula seperti apa karakter bencananya. Beberapa bencana merenggut jumlah korban sangat besar karena kesalahan prediksi sebelumnya.

Seperti kejadian pada peristiwa letusan Gunung St Helen di negara bagian Washington, USA pada 1980 lalu. Letusan gunung ini ternyata menjebol dinding gunung dan menciptakan longsor lahar luar biasa sehingga menimbulkan kerusakan dalam skala yang sangat luas dan menimbulkan kerugian sangat besar.

Pemahaman mengenai kemungkinan terjadinya bencana tak bisa hanya berdasar hikayat atau cerita turun-temurun. Melainkan harus mendapatkan pandangan dari para ahli di bidangnya. Soalnya ini menyangkut keselamatan khalayak. Jangan pernah anggap sepele peristiwa alam seperti ini.

Salahsatu yang wajib dilakukan para para pengelola wisata pada kawasan rawan bencana adalah memberikan pengetahuan pada setiap orang yang berkunjung mengenai langkah-langkah darurat yang harus diambil ketika peristiwa datang seperti jalur penyelamatan diri, jalur evakuasi dan titik aman mana yang bisa dituju di tempat itu sementara.

Seperti yang dilakukan kru pesawat setiap kali mau terbang, harus ada peringatan sejak awal kepada semua orang yang berkunjung ke kawasan wisata rawan bencana seperti ini. Misalnya melalui berbagai tulisan terbuka, poster dan berbagai papan pengumuman yang lain. Juga perlu ditambahkan pemasangan rambu arah untuk evakuasi pada sudut-sudt strategis yang gampang terlihat pengunjung.

Tak hanya fenomena alam, bencana juga bisa muncul dari apa yang dibangun manusia. Seperti infrastruktur yang dibangun di tempat wisata. Sebelum memutuskan untuk membangun infrastruktur, pengelola wisata dan pemerintah lokal harus memastikan disian dan struktur bangunan harus mampu mengantisipasi jenis bencana yang potesial terjadi di kawasan itu.

Jangan sampai bangunan yang ada di tepat wisata malah menjadi petaka ketika terjadi bencana. Banyak kasus bencana terutama tsunami menjadi badai material karena tata kota di pinggiran pantai tidak memberi ruang bagi air laut untuk mengalir dengan lancar. Akibatnya, bangunan yang hancur menjadi gelombang banjir yang menghancurkan lebih banyak bangunan lainnya.

Dengan mempertimbangkan berbagai hal di atas, maka keselamatan pengunjung wisata akan mendapatkan perlindungan sejak dini. Jangan sampai tempat untuk bersenang-senang berubah menjadi petaka bagi para pengunjung yang datang ke tempat wisata. (aji/bumdes.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *