Mengapa banyak BUMDes gulung tikar di tiga tahun pertama?

Ilustrasi Cek Kesehatan Usaha Bumdes

Bumdes.id Merujuk pada data yang dikeluarkan oleh Kementerian Desa jumlah BUMDes di Indonesia mencapai 39.149 buah.  Dari jumlah tersebut sebaran BUMDes sebagian besar BUMDes masih berada di Pulau Jawa dan Sumatera. Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menyebut beberapa di antaranya yang benar-benar hidup namun banyak yang mati suri.

Dalam  temuan Kemendes PDTT pada tahun 2018, yang menjadi penyebab utama dari mati surinya BUMDes di Indonesia adalah karena  ketidaktahuan pengelolaannya. Karenanya, Kemendes PDTT melihat perlu ada peningkatan kapasitas pengelola dan juga aparatur desa.

Mari kita perdalam mengapa banyak BUMDes dan unit usaha BUMDes yang gulung tikar dalam periode tiga tahun pertama. Apa penyebab lain, selain yang telah disebutkan oleh temuan dari Kemendes PDTT yaitu ketidaktahuan pengelolaan. Sebab, ketidaktahuan pengelolaan ini, tentu  menjadi akar dari banyak masalah lain yang akan ditimbulkan kemudian.

Mari kita bahas. Sebagai gambaran mungkin banyak dari kita yang tidak mengira, sebuah perusahaan yang sudah berjalan tiga tahun tiba-tiba gulung tikar. Diawali dengan kesuksesan bagai roket, namun tidak disadari ternyata kesuksesan tersebut juga dibarengi dengan tidak piawai pemilik perusahaan dalam mengelolanya.

Sering kali kita dengar sebuah perusahaan besar dengan anak usahanya ternyata tak mampu berdiri kokoh, banyak dari perusahaan besar yang baru akan memasuki umur 3 tahun pertamanya kemudian runtuh, dan bangkrut.

Mengapa banyak perusahaan besar pun tumbang dalam tiga tahun pertama ketika memulai sebuah lini bisnis baru? Jawaban dari pertanyaan tersebut merupakan hal penting yang harus dipahami oleh pelaku usaha baik usaha kecil atau besar, dalam hal ini tentu saja pegiat BUMDes.

BUMDes sama halnya dengan perusahaan umum, memiliki tugas pokok sebagai badan usaha dengan berbagai unit usaha yang akan dijalankan.

Karenanya, BUMDes perlu untuk membuat rencana usaha dan analisis usaha yang baik sebelum menjalankan atau memulai unit usaha baru, hal ini berarti tidak hanya untuk menghindari kebangkrutan tetapi juga untuk terus melaju di jalur kesuksesan.

Bagi kita pengelola BUMDes perlu mencermati tiga faktor mengapa sebuah unit usaha BUMDes bisa bangkrut, mati suri dan tidak dapat lagi berjalan dalam 3 tahun pertama, berikut adalah penjelasan dari studi lapangan terhadap BUMDes yang ‘gagal’ menjalankan unit usahanya dalam tiga tahun pertama.

1. Unit usaha BUMDes terlalu fokus pada produk
Dalam menjalankan sebuah unit usaha BUMDes, pasti menyadari bahwa produk adalah jantung dari kegiatan unit usaha BUMDes. Produk ini bisa berupa barang atau jasa.

Sejak awal perencanaan untuk pendirian unit usaha, produk yang baru dan unik akan menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen. Terlebih masyarakat kita memang suka hal yang unik dan ‘viral’ maka model produk atau jasa yang ‘unik’ akan menjadi ramai konsumen.

Karena produk begitu ramai peminat di awal dan ‘viral’ tidak jarang pengelola unit usaha BUMDes menjadi terlalu fokus pada pengembangan produk. Memang ini baik, bahkan memang harus dipertahankan. Akan tetapi, fokus pada pengembangan produk yang menyita banyak waktu dan perhatian justru berbanding terbalik dengan kondisi atau perubahan selera konsumen.

Pengelola unit usaha BUMDes bisa saja menjadi lupa dengan kebutuhan utama konsumen. Mengapa? Karena pengelola unit usaha BUMDes tidak lagi peka terhadap kebutuhan utama konsumen, kondisi internal BUMDes, termasuk situasi di luar atau external.

Ketidakmampuan pengelola unit usaha BUMDes dalam menangkap kebutuhan konsumen adalah hal yang akan terjadi ketika pengelola terlalu fokus pada pengembangan produk. Akibatnya, unit usaha BUMDes akan menemui fakta pahit karena apa yang mereka kembangkan, dengan tanpa memerhatikan kebutuhan pasar justru menjadi bumerang. Produk dan jerih payah untuk pengembangannya menjadi sia-sia, karena pasar telah kehilangan momentumnya.

“Ingat perilaku konsumen terus berkembang dan berubah, kebutuhan konsumen seolah tidak ‘terbatas’ maka pahami konsumen sebagai dasar keputusan dalam fokus pengembangan produk.”

2. Pengelola Unit Usaha BUMDes Takut dan berhenti melakukan inovasi
Inovasi adalah kata kunci dalam keberhasilan mengembangkan dan mempertahankan sebuah unit usaha BUMDes, hal ini sama dengan perusahaan pada umumnya, perusahaan yang ‘alergi’ terhadap inovasi maka lambat laun akan tergulung oleh pesaing mereka yang berani melakukan inovasi.

Sebagai contoh, kita tahu tentang kabar kebangkrutan Nokia yang diawali dari sikap Nokia meremehkan keberadaan sistem Android dengan mengatakan sebagai semut kecil yang mudah diโ€˜pitasโ€™ kenyataannya sistem Android tidak dapat di’pitas’ begitu saja, Android tumbuh besar dan menjadi salah satu inovasi yang laku di masyarakat, lantas bagaimana dengan Nokia?

Dari Nokia kita belajar untuk selalu berinovasi karena faktanya sekarang Nokia justru gulung tikar lantaran perkembangan Android yang tidak bisa dihentikan. Ini nyatanya terjadi pada perusahaan di awal-awal perkembangannya. Merasa produk yang diberikan kepada konsumen laris manis hingga lupa untuk melakukan terobosan atau inovasi terbaru.

Banyak unit usaha BUMDes yang mengalami nasib serupa dengan Nokia, enggan melakukan inovasi, merasa bahwa apa yang telah mereka buat adalah puncak dan masyarakat akan membelinya. Perlu diketahui bahwa merasa aman dengan produk yang ditawarkan saat ini sehingga takut untuk melakukan inovasi merupakan kesalahan dan menjadi faktor utama kebangkrutan suatu perusahaan.

Kondisi ini memang menjadi dilema, satu sisi ingin mempertahankan produk agar diterima konsumen, di sisi yang lain harus berinovasi untuk mendapat konsumen baru serta menjaga pelanggan. Karenanya dibutuhkan keseriusan dan riset pasar untuk melakukan sebuah terobosan yang akan menjadi pendobrak kesuksesan unit usaha BUMDes di masa sekarang dan yang akan datang ‘berkelanjutan’.

3. Terlena dan tidak mengamati kompetitor
Keberadaan unit usaha BUMDes dalam skala lokal desa memang wajib untuk tidak menjadi kompetitor dari usaha yang sudah ada di masyarakat. BUMDes harus hadir sebagai wadah yang dapat mengangkat potensi dan keberlangsungan usaha masyarakat.

Kompetitor yang dimaksudkan adalah, kompetitor di luar BUMDes di luar skala lokal desa. Sebagai contoh, BUMDes yang menjalankan unit usaha desa wisata, sering kali hanya ramai pengunjung di awal kemunculan desa wisata atau destinasi wisata yang ada, setelah itu sepi dan lambat laun mati suri, kenapa hal ini bisa terjadi?

Jawabannya pertama tentu ada pada poin 2, tidak adanya inovasi yang berkelanjutan, namun lebih dari itu adalah keberadaan kompetitor yang tidak terlihat oleh pengelola BUMDes, pengelola terlena, seolah-oleh destinasi wisata hanya ada satu di daerah mereka, padahal destinasi wisata telah tumbuh di berbagai daerah.

Maka, perlu melihat keberadaan destinasi wisata lain, mempelajari, dan menjadi kompetitor yang positif, sebagai daya juang dalam membangun dan mengembangkan desa wisata.

Contoh lain, BUMDes yang menjalankan unit usaha produksi untuk produk umum baik daerah atau nasional bahkan ekspor, sering kali terlena, dan kurang awas terhadap keberadaan kompetitor mereka di luar.

Tiga hal di atas, adalah salah satu sebab yang menjadikan unit usaha sulit bertahan dan kebanyakan mati suri atau gulung tikar dalam tiga tahun pertama. Selain banyak sebab lainnya, baik yang sifatnya internal BUMDes dan eksternal BUMDes.

Selain sebab yang sifatnya teknis usaha seperti di atas, perlu juga menganalisis sebab yang sifatnya politik dan kelembagaan, semisal penolakan dan dukungan dari keberadaan BUMDes. Seperti apa cara mengetahui kondisi kesehatan usaha BUMDes? Lebih lengkap dapat menggunakan Cek Kesehatan Usaha Bumdes (CKU-B).

Apa itu  Cek Kesehatan Usaha BUMDes?
Cek Kesehatan Usaha Bumdes (CKU-B) merupakan sebuah alat yang dikembangkan SYNCORE INDONESIA dan BUMDES.id untuk menentukan rating dan tipologi Bumdes. Rating dan  Tipologi  Bumdes  ini  bermanfaat  untuk memetakan  potensi  dan  kendala  unik  masing- masing Bumdes dan menentukan jalur pengembangan Bumdes. Rating dan Tipologi Bumdes juga bermanfaat untuk menjadi basis data dan baseline / titik nol pendampingan.

Apa Fungsi Cek Kesehatan Usaha BUMDes?
1. Alat pemeringkatan dan pengelompokan usaha Bumdes
2. Alat prediksi kegagalan usaha Bumdes dan identifikasi area perbaikan
3. Memberi Rekomendasi Umum untuk program pendampingan

Bagaimana melakukan Cek Kesehatan Usaha BUMDes?
Untuk mendapatkan layanan Cek Kesehatan Usaha BUMDes Sahabat Bumdes melalui http://superapps.syncore.id/cku dan dapat menghubungi https://wa.me/6285772900800 untuk nantinya dijelaskan lebih detail tentang mekanisme kerja sama dan layanan Cek Kesehatan Usaha BUMDes.

Mari bersama kita membangun desa menuju Desa Mandiri dengan BUMDes Sukses. Bagi sahabat BUMDes sekalian, jangan ragu untuk memulai, mari terus tingkatkan keterampilan dan kemampuan mengelola BUMDes.

Kami, bumdes.id dan Sekolah Bumdes, selalu terbuka untuk sahabat sekalian, sebagai upaya percepatan pembangunan desa, pengembangan BUMDes, sahabat sekalian dapat berkunjung ke Sekolah Bumdes. Kami juga memiliki berbagai program Kelas yang dapat menjadi upaya percepatan pembangunan dan pengembangan Desa dan Bumdes.

Mendirikan BUMDes bukanlah suatu perkara yang mudah. Ada step by step yang harus dilalui, mulai dari Musyawarah Desa, terbitnya Peraturan Desa, membuat AD/ART, dan juga mengembangkan potensi atau masalah di desa menjadi peluang usaha BUMDes. Lantas, bagaimana agar BUMDes bisa survive dan berkembang sukses? Jawabannya adalah pengetahuan yang cukup mengenai seluk beluk seputar BUMDes, maka perlu mengadakan pendidikan dan kelas yang serius dan khusus.

Kami di Sekolah BUMDes memiliki program khusus untuk peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pengelolaan BUMDes dengan materi-materi yang sudah kami bagikan ke dalam beberapa kelas yang telah tersedia, antara lain: 1. Kelas Peta Jalan Bumdes , 2. Kelas Tipologi dan Model Bisnis Bumdes (Seri Penguatan Manajemen Bumdes), 3. Kelas Pola Pengelolaan Keuangan dan Akuntansi Bumde. Informasi Lengkap Klik Kelas Sekolah Bumdes โ€“ Pendaftaran Training of Trainers Pendampingan Bumdes Angkatan 20

Bagi Anda, yang ingin belajar BUMDes, memerlukan pendidikan dan pelatihan BUMDes maka jawabannya adalah Sekolah Bumdes. Sekolah Bumdes adalah tempat belajar Bumdes secara paten dan menyenangkan. Kombinasi Teori, Simulasi, Praktik dan Kunjungan Lapangan. Belum lengkap belajar Bumdes kalau belum ke Sekolah Bumdes SMB Bumdes.id. Sekolah Bumdes berada di Jl. Nogotirto No.15 B, Area Sawah, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Silakan Anda berkunjung jika sedang berada di Jogja, Sekolah Bumdes selalu terbuka untuk Anda.

Informasi program selanjutnya dapat menghubungi nomor kontak: https://wa.me/6285772900800.
๐—•๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ ๐—•๐˜‚๐—บ๐—ฑ๐—ฒ๐˜€ ๐—ฌ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—•๐˜‚๐—บ๐—ฑ๐—ฒ๐˜€ โ€“ ๐—ฃ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐˜ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—•๐˜‚๐—บ๐—ฑ๐—ฒ๐˜€. (Ariyanto/Bumdes.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *