3 Alasan Penting RUU BUMDes Tidak Disahkan DPR RI

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar.(Dok. Kemendes)
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar.(Dok. Kemendes)
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar.(Dok. Kemendes)

Bumdes.id – Pada akhir Januari 2022, Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia memutuskan tidak melanjutkan pembahasan RUU BUMDes.

RUU BUMDes merupakan rancangan peraturan yang diusulkan oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dengan harapan terdapat payung hukum penguatan BUMDes.

Rancangan ini diajukan DPD sebagai hasil aspirasi dari daerah-daerah, mengingat DPD adalah parlemen yang berisikan wakil rakyat dari unsur perwakilan daerah/provinsi. 

Usulan RUU ini diajukan DPD kepada DPR untuk kemudian melalui serangkaian pembahasan dengan kementerian terkait. 

Pada rapat-rapat gabungan awal terdapat banyak perbedaan antar fraksi di DPR RI (sebagian fraksi bersikukuh menghentikan pembahasan RUU sementara 2 fraksi meminta untuk terus dilanjutkan). 

Hingga kemudian pada rapat-rapat selanjutnya terdapat kesamaan sikap untuk menghentikan pembahasan RUU BUMDes dengan 4 (empat) alasan utama:

  1. Fraksi-fraksi di DPR akhirnya sepakat bersama dengan Menteri Desa PDTT bahwa rancangan usulan dalam RUU BUMDes substansi materinya sama dalam Undang-Undang Desa dan Undang-Undang Cipta Kerja terutama terkait dengan materi penguatan kelembagaan, posisi subyek BUMDes dan relasi dengan desa itu sendiri. Sehingga diputuskan bahwa RUU BUMDes tidak perlu dilanjutkan.
  2. DPR bersama Menteri terkait berpandangan bahwa penguatan BUMDes dapat dilakukan pada peraturan turunan dari kedua undang-undang tersebut yaitu Peraturan Pemerintah No 11 Tahun 2021 serta peraturan menteri desa yang secara teknis akan memperkuat kemandirian BUMDes.
  3. DPR bersama Menteri Desa menjamin bahwa aspirasi untuk terus memperkuat kelembagaan BUMDes dapat dilakukan baik dengan menerbitkan peraturan baru maupun merubah peraturan turunan yang lama. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *