Persoalan dalam Memetakan Bentang Alam Potensi BUMDes

Persoalan dalam Memetakan Bentang Alam Potensi BUMDes

Bumdes.id – Menyusun pemetaan potensi bentang alam dan bentang usaha oleh pengurus badan usaha milik desa biasanya memiliki beberapa kendala: 

Pertama, banyak pengurus BUMDes maupun pegiat desa belum begitu terlatih mengidentifikasi potensi. Sehingga ada beberapa hal kecil dianggap bukan potensi, sementara hanya fokus pada hal-hal yang besar. 

Padahal potensi-potensi yang kecil bisa dijadikan pemetaan potensi yang bisa diterapkan dengan baik. 

Sumber-sumber air kecil yang awalnya hanya diangkut dengan ember bisa mulai dipetakan dijadikan potensi

Untuk diberdayakan dengan selang, tandon atau usaha elektrifikasi agar bisa menjangkau masyarakat banyak.

Baca juga: Apa itu BUMDes Bersama?

Kedua, pemerintah desa atau pengurus BUMDes terlalu terobsesi dengan melihat desa lain. 

Jika desa lain mampu mengembangkan sektor unggulan singkong atau padi.

Lantas identifikasi potensi di desanya di arahkan semirip mungkin dengan desa lainnya. 

Ini adalah penyakit latah yang secara langsung akan mematikan daya kreativitas desa itu sendiri. Karena desa tidak memiliki potensi unggulan singkong akhirnya terpaksa menuruti hal-hal latah yang bahkan tidak menunjang pendapatan ekonomi desa, malah menghabiskan anggaran.

Ketiga, mulailah terbuka dengan banyak hal, tidak terlalu fokus pada pengembangan potensi di sektor perdagangan saja tetapi coba untuk melirik sektor jasa. 

Belajar dari Desa Sukalaksana di Garut, desa ini memang memiliki hamparan sawah yang luas, tapi sektor unggulan Sukalaksana justru terletak pada sektor jasanya di bidang homestay. 

Sukalaksana berinvestasi pada banyak hal di sektor layanan jasa homestay, namun dengan tetap menjadikan ekosistem perdagangan di sekelilingnya ikut menikmati:

misalnya dengan membuka warung-warung makan, paket kuliner, paket kesenian, paket training bela diri dan sederet paket lainnya. Jadi mulailah untuk terbuka dengan banyak hal. 

Keempat, studi banding bukan untuk memaksakan ide lain masuk ke dalam desa kita. Studi banding amat penting, siapa saja boleh melakukan proses ATM (amati, tiru, modifikasi) dalam melahirkan potensi unggulan desa menjadi sektor penopang ekonomi. 

Namun, studi banding harusnya menjadi tolak ukur atau model pada sistemnya, bukan pada barangnya. 

Satu contoh kasus salah satu desa yang pernah menjadi objek pendampingan Bumdes.id, Desa Sekapuk di Gresik Jawa Timur memiliki sektor unggulan wisata bekas-bekas tambang.

Sektor unggulan ini mampu menghidupi ratusan pekerja dari sistem ekosistem yang diciptakan: mulai dari tiket parkir, warung-warung kuliner hingga layanan jasa.

Cara meniru belajarnya adalah dengan mempelajari sistemnya, bukan alih-alih ikut membuka wisata bekas tambang karena tidak semua desa memilikinya. 

Desa-desa bisa membuka sektor unggulan wisata dari apa saja (dari alam, dari bekas tambang, dari bekas galian). 

Baca juga: Cerita Pendampingan BUM Desa Sumber Mulyo Desa Sumberejo Kulon Pemenang Desa Brilian Batch 3

Namun kemudian menata ekosistem penunjangnya yang menjadikan ekonomi desa berputar di antara warga desa (sirkuler). 

Ekosistem ini bisa dikembangkan melalui tangan BUMDes, Pokdarwis, Karang Taruna hingga Ibu-Ibu PKK. 

Sistem ini jika dikembangkan dan diadopsi, maka akan memudahkan desa dalam menyusun ekosistem ekonomi berkelanjutan. 

Sektor wisata dikendalikan BUMDes dan Pokdarwis, masyarakat bekerja di sektor UMKM kuliner, produk-produk UMKM dan karcis serta parkir dikendalikan oleh Karang Taruna dan ibu-ibu PKK. 

Sistem ini akan menopang sektor unggulan dan memberi tambahan manfaat bagi kesejahteraan ekonomi desa secara menyeluruh. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *