BUMDes Blok Bangkanai Berguru dengan BUMDes Ketapanrame Sidoarjo

Bumdes.id – Medco E&P yang dikenal luas sebagai perusahaan tambang minyak terkemuka di Indonesia, lebih dikenal publik dengan sebutan Medco Energi, pada tahun 2023 ini khususnya Medco E&P di kawasan Blok Bangkanai mengadakan program corporate social responsibility (CSR) untuk memberdayakan BUMDes-BUMDes di kawasan eksplorasi dan produksi Blok Bangkanai Kalimantan Tengah. 

Program CSR yang menggandeng Bumdes.id berupa bimtek selama 2 hari in-class dan 1 hari studi lapangan bertempat di Surabaya dengan menghadirkan 5 desa di daerah kawasan Blok Bangkanai. Desa-Desa yang diundang hadir antara lain Desa Karendan, Desa Haragandang, Desa Muara Pari, Desa Rahaden dan Desa Luwe Hulu. 

Pada hari pertama, selain mendapat materi dari Kurniawan, S.E., AK., M.Ak, Konsultan BUMDes dan Ketua Forum Komunikasi BUMDes Jawa Timur. Bumdes.id juga menghadirkan Kepala Desa Ketapanrame Sidoarjo Jawa Timur yang memiliki banyak pengalaman dalam mengelola BUMDes untuk memberikan ilmunya kepada para peserta BIMTEK dari lima desa yang rata-rata dihadiri langsung para kepala desa, sekretaris desa dan juga direktur BUMDes. 

Desa Ketapanrame sendiri memiliki profil mentereng sebagai desa dengan BUMDes sukses. BUMDesnya pernah mendapat penghargaan bergengsi Desa BRILian yang diadakan Bank BRI dan Bumdes.id serta mendapatkan penghargaan BUMDes inovatif dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). 

Segudang pengalaman BUMDes Ketapanrame ini diharapkan dapat memotivasi dan mendorong desa dan BUMDes di kawasan Blok Bangkanai untuk dapat mandiri, maju dan tumbuh berkembang. 

Direktur BUMDes Ketapanrame Bapak Herwanto hadir langsung untuk membagikan pengalaman terbaiknya dalam mengelola dan mengembangkan BUMDes. Herwanto mengawali pemaparannya dengan perlunya BUMDes mandiri dan tidak tergantung dari kucuran dana desa. Kenapa harus mandiri dan tidak tergantung? Karena perubahan kucuran dari dana desa dan atau dari APBDes bisa sewaktu-waktu dihentikan oleh pemerintah. Jika BUMDes tidak bersiap-siap, maka bisa kolaps dikemudian hari.

Itulah mengapa begitu penting BUMDes dapat mandiri dan mengelola unit usaha yang menghasilkan bagi masyarakat desa. Pada studi kasus di BUMDes Ketapanrame. Usaha-usaha desa lahir justru dari adanya masalah. Misalnya pada awal pertama pengelolaan sumber air banyak menimbulkan konflik perebutan. Desa lalu membentuk BUMD (waktu itu belum ada payung hukum BUMDes) untuk mengelola penyaluran air bersih secara teratur dan terkelola dengan baik.

Persoalan tambahannya kemudian ternyata muncul lagi dengan hadirnya sampah akibat menjamurnya usaha hotel, penginapan dan villa. BUMDes kemudian masuk mengelola pengolahan dan pemilahan sampah. Pada konteks ini menurut Herwanto BUMDes seyogyanya tidak menjadi kompetitor usaha desa dan justru malah menciptakan lapangan pekerjaan dari solusi-solusi yang dihadirkan. 

Menurut pemaparan Herwanto, ada lima usaha BUMDes yang lahir dari masalah-masalah desa. Berikut rinciannya:

 

  1. Unit PAM
    Berdiri tahun 2001 dengan jumlah karyawan 12 orang, terdiri dari karyawan kantor dan karyawan lapangan. Unit ini mirip dengan PDAM, perbedaannya adalah tarifnya lebih terjangkau daripada PDAM. Warga kami hanya membayar Rp. 5.000 per bulan untuk satu sambungan rumah dengan pemakaian sepuasnya. Karena kami berada di gunung, air hanya perlu dialirkan dan jaringan ditata.

 

  1. Unit Pengelolaan Kebersihan Lingkungan
    Kami mengambil sampah di setiap rumah dengan tarif bulanan. Ada 7 karyawan dan 2 mobil yang mengambil sampah dua kali seminggu untuk efisiensi.

 

  1. Unit Kios dan Kandang Ternak
    Fasilitas ini memfasilitasi warga yang dulunya petani untuk berdagang dan beternak. Meskipun skala usahanya tidak besar, tetapi menghasilkan keuntungan.

 

  1. Unit Wisata
    Pengelolaan wisata melibatkan banyak mitra, termasuk 126 UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) serta kelompok-kelompok. Terdapat 16 karyawan di unit ini. Kunci sukses pengelolaan wisata adalah dengan bermitra. BUMDes menciptakan pengusaha-pengusaha baru yang bersama-sama dengan BUMDes, sehingga keduanya tumbuh bersama.

 

  1. Unit SP dan Kemitraan
    Meskipun nasabahnya tidak banyak, unit ini mendukung dengan menyediakan layanan simpan pinjam yang tidak memungut bunga. Labanya berasal dari kemitraan. Contohnya, kita bekerja sama dengan dinas pariwisata untuk mengelola lahan parkir di dekat air terjun dan membuka kios usaha dagang. 

 

Pada akhir sesi, Herwanto menyampaikan ada dua terobosan penting dari BUMDes Ketapanrame. Pertama, adanya inisiatif dari warga melihat BUMDesnya berkembang dengan patungan melakukan penyertaan modal. Sehingga ketika BUMDes membesar, maka 20% dari laba kemudian dimasukkan ke dalam PAD dan berputar untuk menggaji pemerintah desa dan memberdayakan masyarakat desa. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *