Mencetak Desa-Desa Kelas Dunia: Profil Desa BRILian Sukalaksana Garut Jawa Barat

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, di pelosok desa nun jauh dari modernisasi perkotaan. Masyarakat kini dapat terhubung dengan layanan perbankan. Petani dapat menabung uangnya tanpa harus ke kantor bank, melakukan transfer pembelian pupuk atau alat-alat pertanian dapat melalui agen layanan keuangan tanpa kantor yang disebut LAKU PANDAI, cabang layanan perbankan tanpa kantor yang dapat didirikan di luar pulau sekalipun.

Bahkan melalui LAKU PANDAI ini, dapat melakukan transaksi tarik tunai dan pembayaran menggunakan QRIS yang kini menjadi tren dalam transaksi keuangan masyarakat Indonesia. Transaksi perbankan kini tidak lagi membutuhkan kantor bank, semuanya dapat dilayani di LAKU PANDAI.

Salah satu pioner berdirinya LAKU PANDAI di pedesaan adalah PT. Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mendirikan BRILink. Agen-agen keuangan yang menjadi ujung tombak hadirnya layanan perbankan bagi personal dan badan usaha di pedesaan. Dalam laporan tahunan yang diterbitkan BRI, agen-agen BRILink kini telah menjangkau ribuan desa di berbagai pulau terluar di Indonesia dengan jumlah total agen pada tahun 2022 mencapai 627.012.

Selain melalui BRILink, Bank BRI juga mendorong percepatan digitalisasi di pedesaan melalui program Desa BRILian pada tahun 2020-2022. Bank BRI menggandeng Bumdes.id sebagai partner program, Desa BRILian menjadi salah satu program BRI dalam mendorong tumbuh kembang desa menjadi desa berkelas dunia dengan bertumpu pada empat pilar: Digitalisasi desa, Desa yang tumbuh berkelanjutan, Desa kreatif serta BUM Desa sebagai lokomotif ekonomi produktif.

Bumdes.id telah lama dikenal sebagai aggregator, pendamping dan fasilitator bagi ribuan desa di Indonesia. Didirikan oleh akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Rudy Suryanto, M.Acc pada tahun 2016 dan menjadi bagian penting dari tumbuh kembang desa-desa berdaya di Indonesia. Bumdes.id menjadi think-thank terselenggaranya Forum Rembug Akademis BUMDes di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM pada tahun 2019 yang dihadiri 130 dosen dari 66 perguruan tinggi di Indonesia serta perwakilan kepala desa dan direktur BUMDes, disusul dengan Forum Rembug Desa di Panggungharjo yang menghadirkan ribuan kepala desa dan direktur BUMDes serta menghasilkan piagam ketahanan desa yang disebut dengan Piagam Panggungharjo.

BRI menunjuk Bumdes.id sebagai penyelenggara Desa BRILian pada tahun 2021 dan mendapat sambutan luas dari pemangku kepentingan desa. Pada gelombang pertama di tahun 2021, menurut laporan publikasi Bumdes.id, terdapat lebih dari dua ribu desa yang mendaftar. Seleksi kompetensi dilaksanakan secara berjenjang dari administrasi, seleksi online melalui zoom, presentasi dan pemaparan program dari kepala desa dan direktur BUMDes, visitasi alias kunjungan tim penilai dari mantri BRI dan Konsultan Bumdes.id serta sederet webinar tematik yang dilakukan secara online mengingat adanya wabah pandemi Covid-19.

Gelaran Desa BRILian tahun 2021 menghasilkan sepuluh besar pemenang yang merupakan desa-desa tangguh dengan kualitas yang telah ditetapkan dewan juri. Pemenang pertama Desa BRILian gelombang pertama tahun 2021 adalah Desa Sukalaksana di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Berjarak tiga jam dari Kota Jakarta dengan menaiki kendaraan melewati Tol Cipularang menuju Bandung dan kemudian ke Garut. Desa Sukalaksana banyak dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri. Dikenal sebagai desa wisata yang memiliki homestay dengan standar Asia Tenggara, hamparan pemandangan perkebunan stroberi, teh, kopi dan peternakan domba garut.

Kepala Desa Sukalaksana, Oban Sobana menyampaikan bahwa keunggulan Sukalaksana menjadi pemenang Desa BRILian karena dapat memaksimalkan Produk Unggulan Kawasan Pedesaan (Prukades) dengan empat kriteria penilaian yaitu Digitalisasi desa, Desa yang tumbuh berkelanjutan, Desa kreatif serta BUM Desa sebagai lokomotif ekonomi produktif.

Sukalaksana melalui BUM Desa Bina Laksana berhasil mengelola empat unit usaha seperti desa budaya, pengelolaan air, inovasi produk teh kewer dan kopi akar wangi, pengelolaan homestay hingga pengelolaan destinasi wisata.

Faktor terakhir ini yang menjadi daya tarik tersendiri. Sukalaksana berhasil mengemas dan menjual tour satu paket dari menginap di homestay, mencoba pengalaman menanam sawi di perkebunan, mencicipi teh kewer atau kopi akar wangi, hingga belajar kesenian lokal. Semuanya dapat dicoba wisatawan dalam satu paket kunjungan.

Optimalisasi paket kunjungan dan produk unggulan lokal ini mampu menambah pundi-pundi BUM Desa hingga mencapai 700 juta per tahunnya. Itu belum termasuk pengelolaan literasi keuangan melalui BRILink, dimana optimalisasi ini mendekatkan masyarakat Sukalaksana untuk mengakses produk perbankan. Saat Sukalaksana dinobatkan menjadi pemenang Desa BRILian, jumlah total tabungan masyarakat di Sukalaksana mencapai angka 1,7 miliar dengan rasio peminjam kredit usaha rakyat mencapai 1,4 miliar. it

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *